WHO Ingatkan agar tidak mencampur vaksin covid-19

WHO: Campur Vaksin Covid Berbahaya!

WHO (World Health Organization) atau yang dikenal dengan Organisasi Kesehatan Dunia menanggapi terkait trend vaksin yang sedang sering dibicarakan yakni Mencampur Vaksin Covid-19.

WHO merekomendasikan supaya semua orang tidak menambahkan vaksin Covid-19 dari beragam produsen dan merk, karena WHO mengatakan sebagai “trend berbahaya” , masih dibutuhkan data dari efek kesehatan jika vaksin tersebut dicampur.

WHO ingatkan bahayanya mencampur vaksin covid

Dalam sebuah konferensi pers, kepala peneliti WHO Soumaya Swaminathan bahkan menyebut bahwa mencampur-campurkan vaksin yang berbeda ini merupakan tren yang berbahaya.
Baca Juga: Cara Daftar Vaksin Covid-19

“Jadi itu adalah tren yang berbahaya ketika masyarakat mulai mencampurkan vaksin yang berbeda dimana hal itu masih memiliki bukti dan data yang terbatas,” ujarnya dalam konferensi pers WHO, Senin (13/7/2021).

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengungkapkan ada beberapa update temuan ilmiah dan kebijakan terkait vaksinasi. Menurutnya, umumnya vaksin COVID-19 dapat menghasilkan kekebalan.

Berdasarkan beberapa penelitian, kekebalan yang ditimbulkan setelah vaksin dosis kedua dapat bertahan pada tubuh manusia dalam kurun beberapa bulan atau bahkan tahunan. Perlu ditekankan, berdasarkan jumlah dan jangka waktu bertahannya kekebalan pada setiap manusia dapat berbeda-beda tergantung kondisi tubuh masing-masing, yang mekanisme tepatnya masih diteliti hingga saat ini.

Meski begitu, Wiku menerangkan menurut penemuan dari beberapa study ilmiah, dari beragam tipe vaksin yang disarikan oleh WHO, kehadiran vaksin COVID-19 masih penting khususnya dalam meminimalisasi tanda-tanda gejala yang muncul.

Dengan pemercepatan vaksinasi di beberapa daerah di Indonesia, sekarang ini pemerintahan Indonesia merencanakan lakukan penyuntikkan booster jumlah ke-3 atau mixing vaccines ke tenaga medis yang dipandang mempunyai resiko penyebaran paling tinggi baik karena intensif atau lokasi melakukan aktivitas yang tinggi sekali pergerakan penyebarannya yakni sarana servis kesehatan.

“Saat ini beberapa negara juga melakukan hal yang sama, misalnya Thailand yang akan menyuntikkan vaksin AstraZeneca kepada tenaga kesehatan yang sudah mendapat dua kali dosis vaksin Sinovac demi proteksi tambahan bagi tenaga kesehatan. Tentunya praktik ini dilakukan setelah studi klinis dilakukan terlebih dahulu,” tutur Juru Bicara Satgas Covid-19 Prof. Wiku dalam keterangan tertulis, Selasa (13/7/2021).

Baca juga: Varian Baru Covid-19

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *